Saturday, April 24, 2010

Longsor Yang Menguntungkan


Pada akhir tahun 2009, terjadi longsor yang menyebabkan jalan menuju Desa Sukajadi Kec.Pondok Salam tertutup tanah dan menutup jalur penghubung Desa Situ menuju Desa Sukajadi (Gulampok).
Untuk mencapai ke Desa Sukajadi hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua, apabila menggunakan kendaraan roda empat harus memutar melalui Desa Tanjung Sari Kec. Pondok Salam Kab. Purwakarta, Jawa Barat.
Bulan berikutnya jalan longsor tersebut dibersihkan dan ditutup, kemudian membuka jalan baru yang terletak di samping kanan jalan lama. Hal ini dikarenakan jalan lama yang tertutup tanah terlalu curam dan sering mengalami longsor. Dan inilah longsor paling parah. Sebelumnya warga sudah mengajukan pendapat agar dilakukan perbaikan jalan supaya tidak mengalami longsor lagi kepada Pemerintah Daerah dan dinas terkait. Namun belum ada tanggapan, tapi setelah jalan tersebut betul-betul tertutup tanah, maka akhirnya Dinas PU/Bina Marga membebaskan beberapa belas meter tanah kebun dan sawah warga untuk dijadikan jalan tembus baru menuju Desa Sukajadi.
Ketika jalan baru tersebut telah dibuka, terdapat beberapa kendala yang harus diselesaikan oleh Dinas Bina Marga. Ternyata, tanah untuk jalan tersebut masih labil dan membutuhkan pemadatan struktur tanah. Hal ini terbukti dengan bentuk tanah yang akan amblas apabila ditekan dengan beban setara kendaraan roda empat.
Seperti yang penulis kutip dari salah seorang staf PU/Bina Marga. Proses pembuatan jalan ini membutuhkan waktu yang sangat lama. Faktor cuaca dan keadaan tanah pun merupakan penentu lancar tidaknya proses pembuatan jalan tersebut.
Ketika penulis melakukan pemantauan ke Desa Situ terlihat jalan tembus baru yang sudah nampak, hanya saja jalan tersebut masih menggunakan batu belah dan di lapisi pasir. Tampak pula struktur jalannya banyak yang amblas, hal ini disebabkan oleh kendaraan yang melewati jalan tsb dan tanahnya yang belum padat karena terguyur oleh hujan secara terus-menerus.(Yul_p)

Wednesday, March 17, 2010

Saung Marangi Sapi Abah Use


Tampak dalam gambar Warung Maranggi dan Sop Sapi punya Abah Use (maaf ini bukan promosi, saya hanya membagi info tempat kuliner enak yang jauh dari keramaian kota.. karena memang tempat ini ada di tengah kampung/pemukiman warga). Terletak di Desa Cihuni Lebak Kec. Pasawahan Kab. Purwakarta Jawa Barat. Menyediakan Maranggi daging sapi dan Sop Iga sapi bagi pembeli yang ogah makan daging kambing. Selain itu di sini menyediakan juga Beuleum Peuteuy(pete bakar), Es Dewegan(es kelapa muda), Karedox(sayuran mentah yg diberi bumbu kacang & kencur), Bakakak Hayam(ayam bakar, Goreng dan Bakar Ikan Nila, Goreng Anak Ikan, dan Cobek Ikan Nila. Dijamin setelah mencoba makan di Warung Maranggi abah Use, pasti akan ketagihan. Karena selain makanannya enak, harganya pun tidak menguras dompet. Apabila anda butuh referensi tentang tempat wisata kuliner lainnya di Purwakarta, bisa menghubungi alamat ini Yulretno@gmail.com(Yul_P)

Tampak dari kejauhan, deretan pegunungan yang berada di Kec. Plered. Gambar diambil di saluran sungai irigasi Desa Citalang, Kab.Purwakarta.

Dan inilah rujak buah Huni made in Neng Yuli yang super pedas. Makanan ini merupakan salah satu makanan asli Sunda, dan sekarang sudah sangat jarang kita temui di kuliner orang Sunda itu sendiri.

Ini adalah buah Huni yang telah matang. Berwarna hitam keunguan. Dengan rasa manis asam.

Wednesday, February 24, 2010

Sate Maranggi Sapi Khas Pasawahan & Rujak Buah Huni Yang Pikabitaeun

Suatu hari aku dan anakku yang laki-laki pergi ke Pasawahan menggunakan sepeda motor. Sengaja aku mengambil rute jalan Sadang melewati jembatan layang menuju Munjul, lalu masuk ke jalan yang nanti tembus ke daerah Citalang.
Anakku menyebut rute tersebut Jalan Sungai, hal ini dikarenakan jalur tersebut menyusuri sungai irigasi. Di sebelah kanan sungai merupakan sawah-sawah yang terbentang sangat luas, sedangkan sebelah kiri sungai yaitu jalan raya yang kami lalui. Tapi tunggu dulu.. di sebelah kiri jalan yaitu lahan persawahan yang juga sangat luas.
Melalui Irigasi ini kita dapat melihat dampak yang terjadi akibat musim yang melanda daerah ini. Contohnya ketika musim kemarau yang nampak di sungai hanyalah sampah dan tanah yang cukup membuat sungai menjadi dangkal. Udara yang sangat kering, walaupun angin berhembus cukup kuat di tempat itu tapi tidak membuat kita segar. Sawah-sawah yang menjadi tulang punggung kehidupan petani di tempat tersebut menjadi kering sehingga tidak ditanami oleh mereka. Hal ini disebabkan karena ladang mereka sangat tergantung pada saluran irigasi yang berada di sana. Cukup sulit bagi mereka jika hanya mengandalkan air hujan. Tapi kadang solusi adanya irigasi pun kadang tidak dapat membantu memecahkan masalah air bagi ladang patani. Karena ada pembagian jatah air yang mungkin kurang mencukupi bagi sawah mereka yang memang mengunakan air dengan
jumlah yang cukup banyak.
Tapi pemandangan yang digambarkan di atas akan berubah total ketika memasuki musim penghujan. Pada saat itulah yang memang sangat pas untuk menikmati suasana tempat tersebut. Walaupun hanya duduk di atas jok sepeda motor, tanpa makanan atau warung makan yang biasanya muncul di daerah yang memiliki pemandangan yang bagus dan memandang lepas ke arah selatan atau sebelah kanan jalan apabila dari arah Rawa. Sangat indah apabila diibaratkan dengan lukisan cat warna. Sawah yang hijau terhampar bagai permadani yang lembut. Tower-tower selular pun menjadi pelengkap yang menurut saya menambah warna indah, tegak berdiri diantara warna hijau tua yang dominan. Di ujung persawahan dibatasi oleh pohon-pohon yang rindang, bangunan-bangunan rumah yang warnanya menyatu dengan hijau, dan warna merah putih dari tower BTS yang mempermanis suasana.
Oh iya.. sampai lupa, setelah melalui saluran irigasi tibalah kita ke Desa Margasari Cihuni. Awas jangan sampai salah jalan. Karena ada jalan ke Cikolotok yang merupakan tempat pembuangan sampah terakhir. Nanti bukannya makanan yang didapat tapi malah ketemu Magot (bener ga ya spellingnya, soalnya males buka kamus apalagi kamus ol.. pokoknya yang artinya Belatung aja deh.. hiii). Di Desa Cihuni, Kecamatan Pasawahan Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Cihuni lebak terdapat Saung Maranggi dan Sop Sapi.. wuiiih mulai ke makanan niih.. Saung tersebut milik Abah Use, tapi saya mah manggilnya Mang Duse.. hmm sok kenal yaa..?! Eh, tadi judulnya tentang Sate Maranggi dan Rujak Buah Huni tapi kok malah ngomongin soal saluran irigasi siih..
Eitt.. ntar dulu, ini adalah journey (kata Samantha Brown mah..) atau perjalanan saya menuju.. Sate Maranggi dan Rujak Buah Huni tersebut.
Naah, setelah memesan maranggi seratus tusuk dan sop sapinya yang luueezzattss sekali dan membungkusnya (rencananya mau mayoran di rumah Emih saya) maka kami (maksudnya saya sama anak saya yang laki itu) melanjutkan perjalanan. Tapi setelah 200 m jalan, mataku yang memang sangat hapal dengan makanan yang enak melihat sekumpulan buah Huni yang sangat hitam (karena sudah matang di pohon) di etalase sebuah warung. Saya kaget ketika melihat buah Huni tersebut, karena sudah 15 tahun tidak pernah melihat apalagi memakan buah ini. Buah Huni atau Buni kata orang Jawa bilang, berbentuk biji-biji kecil yang berdiameter 1 cm, dengan daging buah yang sedikit dan memiliki biji yang cukup besar. Buah Huni yang matang berwarna hitam keunguan dengan rasa yang sangat manis dan meninggalkan warna ungu di lidah, sedangkan yang belum matang berwarna merah atau putih kehijauan dengan rasa yang sangat asam. Buah Huni cocok untuk dibuat rujak untuk ibu-ibu yang sedang ngidam (padahal saya yang engga ngidam suka juga..) dengan penambahan terasi,garam, gula merah, dan cengek. Di jamin seuhah dan ingin mencoba kembali.
Ternyata di Desa Cihuni Lebak memang masih banyak penduduk yang memiliki pohon Huni. Jadi apabila anda penasaran ingin mencicipi rujak buah Huni atau hanya mencicipi buah Huninya saja anda bisa mencari saya(soalnya saya juga pengen ngerujak buah Huni lagi..) kita bersama-sama hunting buah yang langka ini.
Dan akhirnya perjalanan saya hari itu bersama jagoan cilikku (bukan Adi Bing Slamet y..) diakhiri dengan makan maranggi dan ngerujak huni bersama dengan keluarga saya yang di Pasawahan.
Maaf sebelumnya bagi pembaca sekalian, photo yang merupakan pelengkap cerita saya belum dapat saya tampilkan. Sabar sebentar y..